Rabu, 26 Januari 2022

Anak Shalih Cerminan Orangtua Shalih/Shalihah


Anak shoalih lahir dari orangtua yang shalih/shalihah, menurut saya it can be relate. Pas banget. Apa yang menjadi kebiasaan orangtua kita, tanpa sadar hal tersebut terpatri dalam diri kita.

Ada seorang teman bercerita tentang adiknya, adiknya ini bercita-cita menjadi dokter di UKS seperti uminya. Alasannya apa? Karena uminya punya banyak waktu untuk tilawah Quran. Masyaallah.

Ada lagi seorang temanku, dia 6 bersaudara, dan 3 dari saudaranya adalah hafidz, salah satuya malah menjadi imam di masjid kampusku. Ketika ia ditanya, “Apasih rahasia orangtuamu, kok bisa melahirkan anak-anak sholih yang hafidz seperti ini?” temanku menjawab, “Ibuku, beliau orang yang tidak pernah menyelesihi suaminya. Jarang sekali membuat marah suaminya.” Aku tersentil dengan kalimat polosnya. Dan kini, si shalihah yang juga seorang dokter ini, dia sedang berusaha menghafalkan Alquran, masyaAllah.

Betapa orangtua itu benar sangat berpengaruh pada kualitas anak yang dididiknya. Anak adalah peniru ulung orangtuanya. Anak mencontoh dari orangtuanya. Bahkan setelah menikah, apa yang ia bawa ke keluarga barunya tanpa sadar adalah hasil filtrasi selama ia melihat keluarga ayah dan ibunya.

Tentu ini menjadi PR dan catatan untuk yang baru menikah, atau yang akan memiliki anak, atau yang sudah memilikinya. Bahwa kita pun kelas akan meninggalkan bekas ingatan pada anak-anak kita. Hal-hal yang baik akan di kopi, demikian juga hal yang kurang baik. Semua terekam dalam mega server di otak kita.

Berarti jika orangtuanya missal tidak baik, kemudian anaknya juga pasti tidak baik, begitu? Kasihan dong.

Ada yang Namanya pemutusan mata rantai. Di mana jika sesuatu yang tidak baik itu kamu terima, maka usahakan hanya berhenti di kamu, tidak diteruskan ke anak-anakmu. Tidak mudah memang, bahkan emosi dan ingatan masa lalu bisa saja muncrat ke permukaa karena jiwa-jiwa orang tua jaman sekarang yang renggang akan teladan yang baik semasa kecilnya. Dalam ilmu kedokteran jiwa ada yang Namanya tilikan diri. Semakin seseorang menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya, itu adalah pertanda bagus, di mana ia memiliki tilikan diri yang baik. Dalam kasus ini pun, ketika kita menyadari ada yang tidak beres dengan pola pengasuhan orangtua kita di masa lalu, tidak berarti kita akan menjadi pelaku yang sama, bukan? Dengan tilikan diri yang baik kita akan segera mengerem hal-hal yang tidak perlu kita teruskan. Tidak mudah memang, namun berdiskusi lah dengan suami, dengan lingkungan sekitar. Suppost system yang baik akan membuat lebih mudah menjalaninya. Selamat berjuang!

Selasa, 25 Januari 2022

Kebahagiaan itu Bernama Kesempatan

 

Apa hal yang membuatmu Bahagia?

Apakah saat kamu dinyatakan diterima di suatu perguruan tinggi? Atau saat kamu dinyatakan lulus? Atau saat kamu akhirnya menemukan tambatan hatimu dan menikah?

Apapun itu sejatinya definisi bahagia tentu bisa jadi berbeda pada tiap individu.

Bahagia itu sederhana, katanya. Tapi bukankah memang demikian?

Salah satu definisi bahagia saya adalah saat saya menemukan kembali passion saya yang bertemu dengan sebuah kesempatan. Saya ingat dulu bagaimana senangnya saya bisa bergabung dengan Komunitas Ibu Professional, atau saat saya bergabung dalam komunitas Solo Mengajar. Atau saat saya menemukan lingkungan yang sevisi dan sesuai dengan value saya. Ternyata hal-hal seperti itu juga mampu menghidupkan euphoria dalam diri. Dan kali ini saya diberi kesempatan bergabung di sebuah komunitas belajar lagi. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tathimusshaalihat.

Terkadang kita terlalu stuck dengan rutinitas harian kita. Berkeluarga, bekerja, belajar seolah menjadi rutinitas yang tampak monoton pada beberapa orang. Mengapa bisa demikian? Sejatinya seseorang itu di mana pun ia berada, ia akan bertemu dengan zona nyamannya. Dia sesekali akan keluar dari zona itu dan kemudian dia akan menemukan zona nyamannya yang lain. Hal itu lah yang membuatnya merasa rutinitasnya menjadi terasa monoton. Mungkin ia hanya membutuhkan sedikit sentilan “tantangan” baru.

Saya pernah bertanya kepada seorang teman saat kuliah dulu, “Bagaimana sih caranya membagi waktu?”. Pasalnya dia adalah anak yang aktif organisasi, menjadi ketua angkatan, menjadi ketua divisi dan banyak lagi amanah di pundaknya. Dan dia dengan enteng menjawab: untuk bisa manajemen waktu adalah dengan memiliki banyak kegiatan.

Awalnya saya tidak paham. Yah, mana bisa orang seperti saya yang selama SMA hanya mengikuti satu ekstrakurikuler saja bisa memiliki banyak kegiatan di masa kuliah, sepertinya saya juga masih tidak ingin berencana ke arah sana. Namun karena argumen saya sendiri, saya pun sering keteteran antara kegiatan kampus dan kegiatan organisasi.

Lambat laun saya mulai menerapkan apa yang teman saya sarankan: memiliki banyak kegiatan. Ya, dengan memiliki banyak kegiatan kita bisa menentukan skala prioritas kita. Mana yang harus segera dilakukan, mana yang bisa ditunda. Dan dengan banyak kegiatan ini, kita tidak memberi tubuh kita kesempatan untuk banyak bermalas-malasan. Namun tentu bukan itu saja kuncinya, karena hal tersebut membutuhkan komitmen dan lingkungan yang juga mendukung. Tanpa komitmen, banyak kegiatan justru akan membuat kita ambyar, dan tanpa lingkungan yang mendukung, maka semangat yang membara biasanya hanya di awal.

Dengan banyak berkegiatan nyatanya membuat saya lebih fresh dalam berpikir strategis. And somehow it makes me happier than before.

Semoga kita dimudahkan untuk senantiasa memupuk semangat di awal dan mampu bertahan sampai akhir. Semangat!

Senin, 24 Januari 2022

How To Fix Procrastinator Mindset


I don’t have much time, people said.

But, really?

Dalam seminggu kita memiliki 168 jam (24 jam x 7 hari). Namun mengapa orang cenderung mengatakan tidak memiliki waktu? I’m too busy, katanya.

Ada sebuah content dari TED Talk yang dibawakan oleh Laura Vanderkam, an author and time management expert, dia mengatakan bahwa dalam  bahwa waktu itu adalah suatu hal yang elastis. Bukan waktu yang mengontrol kita namun kita lah yang seharusnya mengontrol waktu. Laura mulai mengetahui prinsip itu saat suatu ketika pemanas air di rumahnya rusak. Ia harus memanggil tukang, dan ia sangat terkejut, ia mampu menyisikan waktunya untuk fix masalah probles air tersebut selama 7 jam. Itu adalah waktu yang sangat banyak, yang ia sendiri bahkan sering menganggap have no time, karena sudah terlalu sibuk dengan kegiatannya. Namun nanyanya dia bisa meluangkan waktu tersebut. Karena apa? It’s just because she consider that water prolem is so important. So she just set the priority to it!

Kemudian tentang seorang prokastinator. Mengapa orang sering sekali menunda pekerjaannya. Seseorang diberi deadline 1 tahun, it means dalam 1 tahun itu dia bisa menyicil mengerjakannya. Orang yang diberi deadline 1 bulan, maka orang tersebut pun seharusnya mengerjakannya dalam 1 bulan. Kemudian orang yang diberi waktu 1 minggu, seharusnya dia mulai mencicil pekerjaannya sehingga hasilnya lebih optimal. Namun yang terjadi apa? Deadine 1 tahun mungkin baru akan dikerjakan 1 bulan sebelumnya. Di beri waktu tenang untuk ujian selama 1 minggu, mungkin dia baru akan mulai belajar 2-3 hari sebelum hari ujian. Dan seterusnya.

Konon, menunda pekerjaan dan mengerjakannya di akhir waktu ini katanya bisa meningkatkan adrenalin dan menajamkan focus kita. Dalam 2-3 hari sebelum deadline kita akan menyingkirkan hal-hal yang membuat kita terdistraksi: nonton TV, scrolling IG, leyeh-leyeh dan sebagainya. Bukan kah kenikmatan yang kita rasakan saat menunda perkejaan itu hanyalah kenikmatan semu saja?

Ada sebuah metode yang menurut orang cukup efektif.

1.       Terapkan Parkinson’s law. Jadi metode ini kita menset deadline kita 50% lebih cepat dari waktu seharusnya. Akibatnya apa, kita bisa lebih memfokuskan pikiran kita. Sebenarnya tidak mesti 50%, karena setiap orang tentu memiliki kemampuan yang berbeda, butuh trial and error. Namun jangan juga membuat banyak excuse buat diri kita.

2.       Set your priority. Sebagaimana yang diceritakan Laura tentang pemanas airnya yang rusak dan ia bisa meluangkan waktunya 7 jam untuk memperbaikiny, ternyata kita hanya perlu menganggap bahwa task kit aitu adalah hal yang prioritas. Jadikan ia first task yang harus segera diselesaikan sebelum menyelesaikan task yang lain.

3.       Selain dua hal tadi, menurut saya, kita membutuhkan komitmen yang kuat. Tanpa komitmen, metode, cara dan solusi hanya akan menjadi angin lalu.

Maka teruslah berproses meskipun Anda hanya berbuat 1% lebih baik dari sebelumnya.

 

Minggu, 23 Januari 2022

Review ala ala Film Korea: Exit (2019)


Judulnya memang review, tapi saya hanya mengamati dari kacamata saya saja, tanpa menyebutkan detail filmnya. Silakan ditonton sendiri jika memang penasaran.

Film yang diperankan oleh Im Yoo Na (sebagai Eui-joo) dan Jo Jung Suk (sebagai Yong Nam) ini cukup membuat tangan saya keringetan.

Pasalnya, bagi seorang akrofobia tentu adegan-adegan di film tersebut membuat bergidik.

Film ini mengisahkan tentang keracunan gas di sebuah kota di Korea. Kaluarga Yong Nam, yang sedang merayakan ulangtahun ke 70 tahun ibunya, saat akan pulang dikejutkan dengan kondisi kota yang porak poranda karena masyarakat sekitar menjadi sesak napas setelah menghirup gas beracun yang sengaja dilepaskan oleh mantan pegawai di Litbangnya sana. Singkat cerita, Yong Nam ini berusaha menyelamatkan keluarganya dengan helikopter yang hanya mampu menampung 20 orang saja. Sedangkan ia dan Eui Joo terpaksa harus ditinggal karena overload. Namun sayangnya helikopter yang kemudian datang kembali tidak mau mengangkut mereka berdua, mungkin karena jumlahnya sedikit kali yaa.. jadi secara triase bencana, petugas akan mencari titik korban yg lebih banyak.

 

Yong Nam dan Eui joo ini ternyata atlet wall climbing. Ditinggal helikopter ga serta merta membuat mereka menyerah, justru mereka berusaha mencari gedung yang lebih tinggi agar bisa terhindar dari gas beracun tersebut.

 

Oke, sudah sampai situ saja. Intinya adalah bagaimana mereka berdua menyelamatkan diri dengan memanjat gedung-gedung yang tinggi.

Lesson learned yang bisa diambil adalah:

1. family comes first. Ya, biarpun sering terjadi percekcokan dalam keluarga, ketika salah satu anggota keluarga ada yang terluka, maka anggota keluarga yang lain akan membantu semaksimal mungkin. Ibarat jemari, jika ada satu jari yang terluka, maka jari-jari yang lain pun ikut merasakannya. Scene yang ditunjukkan adalah ketika kakak Yong Nam menghirup gas beracun dan mulai sesak napas, Yong Nam lah yang menggendongnya dan menyelamatkannya kakaknya. Saat pintu atap terkunci, dia juga lah yang mencari jalan keluar, memanjat gedung dan membuka pintunya dari luar sehingga kakaknya bisa diselamatkan oleh helicopter.

2. ketika seseorang memiliki banyak kekurangan, maka akan ada kelebihan yang dia miliki. Seperti Yong Nam, di kalangan keluarga dia dikenal sebagai lelaki yang not capable, pengangguran, lajang, dan tidak bisa diandalkan. Namuan ketika situai emergency justru Yong Nam yang mampu membaca situasi dan menemukan solusi.

Menurut saya film ini bagus, ada sisi humornya juga. 9/10 lah. Dan ini salah satu film korea yang tidak ada adegan cinta-cintannya. Worth to watch!

Kamis, 20 Januari 2022


Be Good Doctor with Pulic Speaking Skill

 

Menjadi seorang introvert, berbicara di depan banyak orang tentu menjadi hal yang yang mengkhawatirkan. Pasalnya, pandangan mata selama menjadi center of the eyes membuat berbagai saraf parasimpatis menjadi meningkat drastis.

 

Tapi bukan berarti orang introvert tidak bisa berbicara di depan umum. Untuk itu perlu lah berlatih.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mengikuti pelatihan public speaking di tempat kerja saya. Pembicaranya tidak tanggung-tanggung, dr Haikal Anshari, M.Biomed. Beliau ini bukan hanya seorang dokter yang kompeten di bidang anti aging dan seksologi, namun beliau ini adalah salah satu presenter di TVone. Pengalaman yang beliau miliki tentu relevan dengan bidang kerja saya yang Sebagian besar melibatkan edukasi terhadap pasien.

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian dalam melatih public speaking kita, diantaranya:

1.     1. Kenali audiens.

Well, dengan kita mengenali audiens atau pendengar kita, maka sikap demam panggung akan berkurang. Pentinganya kita mengetahui latar belakang audiens kita. Tentu berbeda rasanya Ketika kita berbicara di depan orang awam yang tidak terlalu paham bahasan medis, dengan kita berbicara di depan professor dengan keilmuan yang tinggi.

 

2.     2. Kenali diri sendiri

Mulai lah menerima kelebihan maupun kekurangan diri karena keduanya bisa menjadi “brand” untuk diri kita sendiri.

 

“your brand is what other people say about you when you are not in the room

 

Jadi brand kita adalah apa sih yang orang lihat tentang kita?

Keunikan kita adalah brand kita, so just be you!

 

Apa sih yang membuat kita takut?

Fear adalah sebuah hal yang wajar, so just validate your feeling. Wajar kalua kamu merasa takut. Rasa takut maupun khawatir kadang justru hanya sebuah overthinking yang kita rasakan, dan overthinking itu belum tentu terjadi.


Terus solusinya apa?

Story telling.

Bawakan apa yang kamu sampaikan itu dengan cara menceritakan yang menghadirkan tema, konflik, simpati dan solusi.

 

Tips menghilangkan rasa takut saat berbicara di depan umum:

1.     Buatlah replika pendengar.

2.     Jangan merendahkan diri saat memperkenalkan diri

Contoh: “maaf ya, saya tidak menyiapkan materi dengan baik”

“Maaf sebelumnya, sebenarnya ini bukan kompetensi saya”

3.     Pelajari dan kuasai content!

4.     Afirmasi positif ke diri sendiri

                Contoh: “bismillah, insyaAllah saya bisa”

 

Talent is made, not born

 

Tips agar lebih percaya diri saat berbicara di depan umum:

1.     Tentukan tujuan bicara/temanya

2.     Kenali audiens

3.     Know your positive and negative side

4.     Kuasai materi

5.     Kelola perasaan grogi

6.     Optimalkan suara dan gesture (gunakan pernafasan perut)

 


Selasa, 18 Januari 2022


More Passion Continue after Starting


Kalimat ini saya dapat saat menonton channel youtube dari Better than Yesterday. Quote yang sangat mengena untuk saya. Sedari pagi tadi, saya keranjingan tontonan motivasi di youtube. Mulai dari pidato Steve Jobs, mantan CEO Apple Inc, kemudian ceramahnya Prof Reynald Kasali tentang ledakan ekonomi dan kehidupan yang terjadi di masa sekarang, kemudian Dr. Indrawan Nugroho mengenai orang-orang yang cerdas di dunia, dan Better than Yesterday mengenai mini habbit yang sebaiknya segera kita mulai.

Banyak sekali insight yang didapat, tentu saja. Ada beberapa poin yang saya tangkap.

Perubahan jaman pasti akan terjadi, sebagai manusia tidak semestinya tidak berbuat apa-apa. Do something. Tirulah orang-orang hebat, kebanyakan dari mereka sibuk membaca buku, sibuk memperbaiki diri, sibuk merefleksikan diri, menengok kebelakang dan mengoneksikan titik yang mereka lalui. Steve Jobs sendiri tidak lahir serta merta menjadi orang sukses, ia bahkan pernah drop out dari sekolahnya. Namun, justru hal ini lah yang menjadi turning point buat dia. Ia keluar dari sekolah bukan berarti ia tidak mengambil pelajaran, ia justru menjadi lebih kreatif saat itu. Saya menangkap bahwa Steve Jobs ini tidak mudah menyerah, ia menyukuri keputusan-keputusan yang ia ambil, ia mencintai pekerjaannya dan ia berani mengambil risiko. Menurut saya ini hal yang keren, karena apa? karena tidak semua orang mampu melakukannya. Kebanyakan orang lebih memilih terkungkung dalam keinsekyuran, including me, sehingga tidak mencoba untuk memulainya. 

You don't know what you don't know, begitulah yang dikatakan kak Alia Noor Anoviar dalam kelas perdana di career class kemarin. well, kita tidak akan pernah tahu, sebelum kita sempat mencobanya. dan apabila kita memiliki kesempatan untuk mencobanya, just do your max

"Sometimes life is going to hit you in the head with a brick, don't loose faith." yang membuat Steve tetap maju adalah ia menyukai apa yang dia lakukan. Hal yang membuat kita akan melakukan hal yang hebat adalah karena kita menyukai hal tersebut, dan jika belum menemukannya, keep looking and don't settle!

Wah, ini sejalan dengan atomic habbits, bukan? Perubahan kecil yang bisa mengubahmu. Sebagaimana hukum Newton I: benda yang awalnya diam akan tetap diam, demikian juga dengan benda yang awalnya bergerak, dia akan tetap bergerak. maka dari itu pentingnya untuk tidak menjadi settle atau hanya berdiam saja and do nothing, tapi tetap melakukan sesuatu secara konsisten meskipun sebentar/kecil. Jika kita tidak bergerak, maka tunggu lah waktu kita akan tergerus oleh jaman. Masa depan yang menanti kita, akan ada banyak sekali pekerjaan yang nantinya digantikan oleh artificial inteligent, robot. Selain efisien, it will be more cost effective. Maka, jika kita masih berpikir kuno dan menganggap bahwa it's okay to be me right know and i don't want to change, maka itu kesalahan yang besar.

Kemudian poin lain dari pidato Steve Jobs adalah tentang kematian. Ia selalu bertanya pada dirinya setiap pagi di depan cermin, if i die today, what would you do? Bukan kah di dalam Islam juga kita dianjurkan untuk sering mengingat kematian dan nasib kita di "the day after"? Bahkan orang yang dikatakan cerdas adalah ia yang senantiasa mengingat kematian. ketika kita tahu bahwa ini adalah hari terakhir kita, tentu kita akan memaksimalkan untuk melakukan hal-hal yang seharusnya kita lakukan. Saya sendiri pun merasakannya, saat saya akan mengajukan resign karena harus mengikuti suami, yang saya rasakan apa? saya justru sangat bersemangat dalam bekerja, sangat ringan di rasa hati saya ini. Bukankah jika etos kerja seperti ini adalah bagus? ketika kita memaksimalkan apa yang kita, bisa dalam pekerjaan kita, to love what we do maka bekerja bukanlah menjadi sebuah rutinitas saja.


Senin, 01 Maret 2021

Jika bukan kita siapa lagi?

 Faidah dari Kajian ustadz Nuzul Dzikri 

1/3/21

Pernah nggak sih dengar celotehan arogan yang mungkin sebenarnya sudah jamak di masyarakat, "Jika bukan aku [kita], siapa lagi?"

Padahal, Allah nggak segan-segan loh mengganti kita dengan umat yang lain yang Allah lebih cintai dan mereka mencintai Allah. Allah itu Maha Kuasa, Allah tidak butuh makhluknya. mau makhluknya taat, ataupun fajir, kerajaan Allah tetap berdiri, nothing happened!

Dalam kajian Ustadz Nuzul Dzikri tadi pagi, pas banget beliau sedang meberikan siraman rohani yang isinya jleb bagi makhluk-makhluk sombong nan fajir ini. Judul kajiannya "JIka Semua Manusia Bertaqwa", kalian bisa search di Youtube dengan judul tersebut.

Oh iya, ini kajian kitab Riyadush Shalihin, sedang bahas hadits Qudsi nomer 113 yang mana, hadits ini panjang sekali dan beliau hafidzahullahu ta'ala sabar banget menguraikannya setiap pagi ba'da subuh.

Beliau juga mengingatkan kepada kita, bahwa saat ini kita sedang berada di bulan haram, yaitu Rajab, yang mana di bulan-bulan ini amal sholih dilipat gandakan pahalanya sebagaimana dosa juga dilipatgandakan.

QS. At Taubah 36: sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Dunia itu dilaknat sama Allah, dan semua yang ada didunia itu dilaknat, kecuali 

1. Berdzikir pada Allah. maka setiap kita berdzikir kita terjaga dari laknat Allah

2. Setiap amal dan aktivitas yang dicintai dan diridhoi Allah. Orang yang menuntut ilmu dan hari-hari kita diisi dengan ilmu, dengan Alqur'an maka pada saat itu hari kita dijaga oleh Allah.

jika kita bukan ulama, maka usahakan menjadi orang yang muta'allim,orang yang belajar. 

Parameternya bukan hanya berada di jalan yang benar, tapi bagaimana kita bisa bertahan di jalan yang benar. Jangan pernah tinggalkan kajian rutin karena kajian rutin itu modal kita berubah. Mintalah pertolongan pada Allah agar kita bisa istiqamah.kuatkan syahadat, kita hanya lah hamba yang tugasnya hanya beribadah pada Allah


imam An Nawawi Rahimahullah di bab Mujahadah, pada penggalan di hadits nomer 113, yang memperkuat penggalan sebelumnya.

"Wahai hamba-hambaKu, seandainya orang yang pertama hingga orang yang terakhir, manusia, dan jin dan kalian semua memiliki hati seperti hati seorang laki-laki yang paling bertakwa di antara kalian, maka hal itu tidak akan menambah sedikitpun dari kerajaanKU. Wahai hamba-hambaKu, seandainya orang yang pertama hingga terakhir, manusia dan jin dari kalian, semuanya memiliki hati seperti hati seorang laki-laki yang paling jahat di antara kalian, hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun dari kerajaanKu."

Allah tidak butuh makhlukNya. Justru kita lah yang butuh. Bertaqwa pada Allah itu kebutuhan, kita sholat subuh itu kebutuhan. Kita bertaqwa itu karena kita butuh, taat itu kebutuhan. Makan yang halal itu kebutuhan, resign dari tempat yang haram itu kebutuhan, tidak makan harta haram itu kebutuhan, meninggalkan yang haram adalah kebutuhan sejati. taat kepada Allah itu kebutuhan, taat kepada rasul itu kebutuhan, taat kepada suami bagi istri itu kebutuhan, taat kepada guru itu suatu kebutuhan. semua ketaatan kepada Allah itu kebutuhan, sujud itu  kebutuhan, shalat witir kebutuhan, dzkir pagi petang kebutuhan, baca quran itu kebutuhan. dan merendah, menghinakan diri dihadapan Allah itu kebutuhan, hidup sebagai seorang hamba itu kebutuhan.

jika kalian berbuat baik itu akan kembali pada diri kalian. jika kalian berbuat buruk, kalian berbuat buruk untuk diri kalian

al isra 7

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ 

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,

Ketika ia bertaqwa, Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka. QS At Talaq 3


QS Al Anfal 24:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَجِيبُوا۟ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ ٱلْمَرْءِ وَقَلْبِهِۦ وَأَنَّهُۥٓ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ 

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.

Banyak orang yang hidup secara fisik tapi mati secara jiwa. Orang yang merasa aturan ini adalah lebay, sebenarnya dia adalah orang yang sakit. diibaratkan seperti orang sakit, lupa makan, lupa minum.

Allah nggak butuh dengan kita, tapi kita yang butuh Allah. Dari bangsa manusia dan jin ada orang yang hatinya paling fajir.

QS Az Zumar 7

إِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ 

Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.

Jika kalian kufur maka Allah tidak memerlukan iman kalian. Allah tidak butuh pada kalian. Allah tidak ridho kekufuran bagi hamba2nya. Kita harus merasa butuh terhadap iman.

Jika kalian murtad,apa Allah akan rugi? Tidak. Allah akan datangkan suatu kaum yang Allah cintai dan mereka pun mencintai Nya. so jangan merasa berjasa! 

"Kalau bukan kita siapa lagi?" banyak.

QS Al Maidah 54

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.


Imam Ibnu Rajab Al Hanbali, penggalan ini menunjukkan bahwa pusat kebaikan dan keburukan itu ada pada hati, seperti orang yang hatinya paling bertaqwa, paling fajir. kesimpulannya bahwa asal dari ketaqwaan dan kefajiran itu hati. Hati yang baik maka tubuh itu akan baik dan bertaqwa, hati yang rusak, hasad, hati yang ada kepentingan, maka tubuh itu pun akan fajir.

Barakallahu fiikum.


Tips Membuat Infografis dengan Canva

Hallo teman-teman… Apa kabarnya nih? Semoga sehat selalu ya… nah, teman-teman di sini adakah yang suka mendesain? Jaman now , desain itu tid...