Kamis, 16 Juni 2022

Mitos ke-14 Mengobati Mata Merah dengan Air Kencing

 

Pernahkah Anda mendengar informasi tentang penggunaan air kencing untuk mengobati penyakit? Di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, terapi ini kerap dilakukan untuk mengobati mata merah karena infeksi konjungtiva. Konon katanya, mata yang sakit ketika ditetesi air kencing akan sembuh meskipun membutuhkan waktu lama. Menurut Anda, apakah informasi ini benar atau hanya sekedar mitos?

 

Air kencing sebagai obat tradisional

Meminum, mengoleskan, meneteskan kencing manusia maupun hewan untuk tujuan pengobatan telah dilakukan oleh banyak orang di dunia sejak dahulu. Ini adalah salah satu pengobatan tradisional dan alami yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti asma, artritis, alergi, jerawat, kanker, rambut rontok, mata merah, dan lainnya. Selain itu sebagai obat topikal (dioleh/ditetes) urin dianggap berguna untuk mengobati luka, rambut rontok dan mata merah. Bahkan jaman dahulu kabarnya pengobatan seperti ini sangat populer, bukan hanya di Indonesia namun di Afrika, Mesir, India, China, maupun Amerika. Metode pengobatan dengan menggunakan air kencing sering dikenal dengan istilah terapi urin.

Terapi Urin adalah sebutan untuk penggunaan air kencing (urin) untuk pengobatan. Urin/ air seni/ air kencing adalah produk sisa dari tubuh kita yang disaring melalui ginjal. Tidak ada bukti ilmiah yang kuat penggunaan urin untuk terapi kesehatan, baik itu diminum, maupun hanya dioles atau ditetes. Urin yang diproduksi oleh tubuh adalah zat sisa yang memang harus dikeluarkan tubuh karena bisa mengandung racun yang berbahaya bagi tubuh.

Kandungan urin sebagian besarnya adalah air. Paling banyak urea (25g/dL), dan asam urat (1gr/dL), kreatinin (1.5g), elektrolit (10g/dL sebagian besar NaCl), fosfat dan asam organik (3g/dL), hanya sedikit sekali yang mengandung protein (40-80 mg/dL, kebanyakan adalah albumin, dan hanya sejumlah kecil antibodi atau enzim), berbagai jenis hormon (tidak harus aktif), glukosa, dan vitamin yang larut dalam air. Selain itu urin bisa memiliki kandungan yang berbahaya termasuk bakteri, obat-obatan, atau bahan kimia.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ogunshe (2010) menunjukkan situasi yang berbeda dengan saat ini. Pada penelitian tersebut penggunaan urin mausia atau sapi untuk terapi medis dilakukan karena rendahnya tingkat ekonomi, di mana obat-obatan modern sangat mahal sementara masyarakat sangat miskin. Terapi ini menjadi populer karena tingginya tingkat kemiskinan tersebut.

Ogunshe juga meneliti kandungan mikroba pada urin yaitu dengan mengambil sampel urin dari sapi dan anak sehat usia 5-11 tahun. Hasilnya terdapat 116 bakteri yang terisolasi (jumlah anak=77, sapi= 39). Bakteri tersebut adalah Bacillus (10.4%; 5.1%), Staphylococcus (2.6%; 2.6%), Citrobacter (3.9%; 12.8%), Escherichia coli (36.4%; 23.1%), Klebsiella (7.8%; 12.8%), Proteus (18.2%; 23.1%), Pseudomonas (9.1%; 2.6%), Salmonella (3.9%; 5.1%) dan Shigella (7.8%; 12.8%).

Selain bakteri pathogen ditemukan dalam urin, Ogunshe juga menilai resistensi antibiotik terhadap bakteri tersebut dimana didapatkan hasil resistensi yang tinggi terhadap bakteri gram positif (50,01%) dan gram-negatif.

 

Potensi Bahaya Terapi Urin

1.      Urin adalah produk sisa

Urin itu produk sisa dari tubuh kita. Ginjal yang kita miliki dengan cerdas bisa menyaring zat-zat yang masih berguna oleh tubuh dan yang tidak berguna. Mengonsumsi urin bisa menimbulkan masalah kesehatan yang berat.

2.      Urin tidak steril dan teradapat bakteri di dalamnya

Urin bersifat steril saat diproduksi oleh ginjal, namun ketika ia keluar dari tubuh, biasanya akan terkontaminasi. Sangat jarang urin yang steril sehingga bisa digunakan untuk dioleskan di atas luka atau di konsumsi. Kandungan bakteri dalam urin dan kemungkinan resistensi antibiotik yang sangat berbahaya jika dikonsumsi.

3.      Beracun

Sistem pembuangan urin bekerja secara spesifik untuk mengeluarkan racun dalam tubuh. jika racun tersebut dikonsumsi lagi makan akan berpotensi merusak ginjal.

4.      Konsumsi urin bisa menyebabkan diare, lemas, demam, dan nyeri otot dan gejala ini meningkat sejalan dengan banyaknya urin yang dikonsumsi.

 

Kita sering melihat di film-film survival yang dramatis, tokohnya mengonsumsi air kencingnya sendiri untuk mengatasi dehidrasi. Padahal air yang dikeluarkan lewat kencing maupun keringat mengandung banyak garam. Proses fisiologis tubuh ini akan menjaga kandungan elektrolit dalam tubuh. Jika seseorang langsung mengonsumsi urin yang terjadi adalah tubuhnya semakin dehidrasi karena cairan dalam sel akan keluar lebih banyak.

 

Simpulan:

Air kencing tidak mengandung kebaikan apapun untuk menyembuhkan terutama penyakit mata. Bahkan air seni bisa mengiritasi dan menginfeksi mata. Tidak ada penelitian yang menjelaskan penggunaan urin untuk terapi penyakit apapun. Mata merah adalah penyakit yang bisa sembuh sendiri tanpa terapi apapun. Masih ada banyak cara yang lebih baik dan lebih enak untuk meningkatkan kesehatan seseorang dan menyembukan penyakit.

 

Jadi, di jaman modern yang akses informasi begitu banyak dan mudah, maka mulai lah berpikir berbasis bukti. Tidak bijak jika masih mengikuti terapi tradisional yang tidak jelas manfaatnya bahkan justru menimbulkan banyak kerugian untuk tubuh.

 

Referensi:

Ogunshe AA, Fawole AO, Ajayi VA. Microbial evaluation and public health implications of urine as alternative therapy in clinical pediatric cases: health implication of urine therapy. Pan Afr Med J. 2010;5:12. Published 2010 May 25. doi:10.4314/pamj.v5i1.56188

Loeffler JM. The golden fountain--is urine the miracle drug no one told you about?. Pan Afr Med J. 2010;5:13. Published 2010 May 25.

Beth Israel Lahey Health. Winchester Hospital. accessed 16 Juni 2022. available at https://www.winchesterhospital.org/health-library/article?id=161688

Brennan D. Are There Health Benefits to Drinking Urine? Published 22 Oktober 2020, diakses tanggal 16 Juni 2022 https://www.webmd.com/diet/health-benefits-drinking-urine

Rabu, 15 Juni 2022

Mitos ke-13 Sakit Mata Menular Lewat Tatapan Langsung

 

Mata adalah organ vital yang menunjang seluruh aktivitas keseharian kita. Jika mengalami sakit mata, terutama mata merah, tentu tidak akan nyaman dalam menjalani aktivitas. Selain itu ada kecenderungan dijauhi oleh orang-orang di sekitar kita karena kabar yang beredar penyakit tersebut akan menular hanya dengan bertatapan secara langsung. Bahkan si penderita diminta menjauhi kerumunan dan mengenakan kaca mata hitam agar tidak terjadi tatapan langsung dengan orang lain. Apakah pendapat tersebut benar atau hanya sekedar mitos? Mari kita bahas bersama.

 

Mata merah karena apa ya?

Mata merah paling sering disebabkan oleh konjungtivitis.  Konjungtiva adalah membran tipis yang ada di mata bagian yang berwarna putih dari mata kita. Inflamasi atau infeksi pada konjungtiva dinamakan konjungtivitis. Gejala yang sering muncul berupa mata merah, bengkak, dan sering disertai dengan sekret yaitu cairan yang keluar selama terinfeksi. Sekret yang keluar pun bermacam-macam tergantung penyebab. Ada yang watery (cair, bening, banyak) maupun mukopurulen (kental, lengket, berwarna seperti nanah).

 

Penyebab konjungtivitis

Penyebab tersering konjungtivitis adalah karena virus (sekitar 80% kasus). Penyebab kedua terbanyak adalah karena bakteri (50-70 persennya  dialami oleh anak-anak). selain itu bisa disebabkan oleh alergi (mengenai 15-40% populasi). Penyebab lainnya adalah karena masuknya benda asing ke mata (misal bulu mata), iritasi (kosmetik, lensa kontak), polusi udara (asap rokok, debu, asap atau uap kimia), jamur, dan parasit. Gejala yang muncul hampir sama sehingga sulit untuk membedakan penyebabnya.

Konjungtivitis virus dan bakteri sangat mudah menular sedangkan kojungtivitis alergi biasanya tidak menular. Konjungtivits alergi terjadi karena reaksi tubuh terhadap alergen, seperti serbuk bunga, debu, kosmetik, dll. Paling sering menyerang orang-orang yang memiliki alergi dan bisa terjadi musiman.

Penyebaran Konjungtivitis

Paling sering konjungivitis menyebar lewat kontak langsung (berjabat tangan, bersentuhan, berpelukan), droplet (saat bersin), atau karena bersentuhan dengan permukaan yang terdapat virus atau bakteri kemudian menyentuh mata sebelum mencuci tangan.

 

Gejala konjungtivitis

Gejala tergantung penyebabnya, namun secara umum gejala konjungtivitis adalah

·         Mata berwarna pink atau kemerahan

·         Bengkak pada konjugtivas maupun kelopak mata

·         Meningatnya produksi air mata dan sekret (watery atau mukopurulen). Sering mengakibatkan mata sulit dibuka pada pagi hari.

·         Terasa mengganjal pada mata sehingga sering menggosok mata

·         Gatal, iritasi atau terasa panas

·         Pada konjungtivitis karena virus sering disertai dengan pilek, sekret watery.

·         Pada konjungtivitis bakteri sering disertai sekret mukopurulen sering disertai infeksi telinga

·         Konjuntivitis alergi: seringnya terjadi pada kedua mata, terasa sangat gatal dan keluar air mata terus. Sering disertai dengan gejala alergi seperti hidung gatal, bersin, asma.

 

Terapi Kojungtivtis

Kebanyakan kasus konjungtitivis karena virus dan bakteri akan sembuh sendiri dalam 7-14 hari tanpa pengobatan apapun. Pengobatan hanya diberikan pada kasus tertentu Konsultasikan dengan dokter Anda untuk pemilihan pengbatan yang tepat. Antibiotik tidak akan memberikan efek pada kasus konjuntivitis virus.

Untuk mengurangi gejala pada konjuntivitis virus bisa dikompres dengan air dingin. Sementara pada konjungtivitis alergi dapat membaik dengan menghindari zat alergen disertai pemberian anti alergi topikal.

Hindari penggunaan antibotik-steroid tetes mata secara rutin. Steroid akan meningkatkan latensi virus dan memperlama sakit pada konjungtivitis virus. Kemudian jika ternyata terdapat luka kecil di mata akibat infeksi herpes atau bakteri atau parasit, steroid akan memperparah kondisi, kornea akan meleleh dan menyebabkan kebutaan.

 

Awasi tanda bahaya!

Jika mata merah disertai nyeri berat pada mata, sakit kepala berat, penurunan penglihatan, reaksi pupil yang menyakitkan, silau/ sensitif terhadap cahaya, mata merah yang tak kunjung membaik justru memberat meskipun sudah diberikan terapi, dan memiliki riwayat sistem imun yang rendah (pada pasien HIV atau kanker) segera kunjungi dokter spesialis mata terdekat untuk penatalaksanaan lebih lanjut.

 

Pencegahan

Meskipun konjungtivitis sangat mudah menular namun bisa dicegah dengan menerapkan beberapa hal di bawah ini:

Jika Anda penderita:

·         Sering mencuci tangan dengan sabun dan air hangat setidaknya 20 detik. Cuci tangan pada saat sebelum dan sesudah menyentuh mata atau setelah memberikan obat mata. Jika tidak ada air dan sabun, maka gunakan hand sanitizer yang berbahan dasar alkohol minimal 60%

·         Hindari menyentuh atau mengucek mata. Hal ini bisa memperparah kondisi dan menyebarkan ke mata yang sehat

·         Bersihkan sekret yang ada di sekitar mata beberapa kali sehari dengan menggunakan kain yang bersih atau kapas yang sudah dibasahi. Buang kapas setelah menggunakan dan cuci kain dengan air hangat dan detergent.

·         Jangan memakai lensa kontak sampai mata dinyatakan sembuh

·         Jangan berbagi barang pribadi seperti bantal, kain lap, handuk, tetes mata, makeup wajah/mata, peralatan make up, lensa kontak dan tempat penyimpanannya, atau kacamata.

Jika Anda adalah orang yang ada disekitar penderita

·         Cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir atau menggunakan hand sanitizer sebelum dan setelah kontak dengan orang yang terinfeksi atau barang yang digunakan, contoh setelah membantu memberikan obat tetes atau setelah membersihkan barang pribadi penderita

·         Hindari menyentuh mata sebelum tangan.

·         Jangan berbagi barang pribadi yang telah digunakan oleh penderita

Tips agar tidak terkena konjungtivitis lagi

·         Buang makeup mata/wajah/brush yang digunakan selama terinfeksi

·         Buang lensa kontak, wadah, dan cairan pembersih yang pernah digunakan saat terinfeksi

·         Bersihkan kacamata yang digunakan selama sakit

 

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa mata merah atau konjungtivitis tidak menular langsung dari pandangan mata dengan penderita, melainkan dari bersentuhan langsung. Hal ini pun dikarenakan kebersihan diri yang kurang baik. Biasanya karena penderita menyentuh matanya sendiri kemudian bersentuhan dengan orang lain. Akibatnya infeksi bakteri atau virus akan cepat berpindah. FYI, virus dan bakteri bisa menetap di permukaan dalam beberapa jam sampai hari, sehingga perlu menerapkan higienitas yang baik.

 

Referensi:

Azari AA, Arabi A. Conjunctivitis: A Systematic Review. J Ophthalmic Vis Res. 2020;15(3):372-395. Published 2020 Aug 6. doi:10.18502/jovr.v15i3.7456

National Center for Immunization and Respiratory Diseases (NCIRD), Division of Viral Diseases (2021). Centers for Disease Control and Prevention (CDC) available access at https://www.cdc.gov/conjunctivitis/index.html

Azari AA, Barney NP. Conjunctivitis: A Systematic Review of Diagnosis and Treatment. JAMA. 2013;310(16):1721–1730. doi:10.1001/jama.2013.280318

Senin, 13 Juni 2022

Mitos ke-12 Menyembuhkan Bintitan dengan Bawang Putih

Pernahkah Anda mengalami mata terasa mengganjal, pegal dan terdapat benjolan di kelopak mata atas atau bawah? Kemungkinan Anda sedang mengalami bintintan. Informasi yang beredar di masyarakat adalah mengobati bintitan dengan bawang putih. Apakah saran terapi ini boleh di lakukan?

Pada abad ke-9 bawang putih dan bawang merah dipercaya dapat menyembuhkan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Syaphylococcus. Bawang putih yang dikombinasikan dengan wine dan bagian perut sapi kemudian dibiarkan selama sembilan hari dipercaya mampu menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus termasuk bintitan. Namun, saat itu tidak ada studi yang mampu menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi. Berawal dari situ lah, orang menganggap bawang putih mampu menyembuhkan infeksi bakteri. Padahal belum diketahui mekanismenya, apakah benar efektif untuk mengobati atau justru lebih banyak bahaya yang ditimbulkan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dewi, dkk (2020), bawang putih (Allium sativum L) merupakan salah satu obat tradisional yang memiliki senyawa berkhasiat sebagai antibakteri yaitu Allisin yang mempu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Pada penelitian ini menggunakan ekstrak bawang putih yang sudah memenuhi syarat baik dari segi organoleptik, homogenitas, pH, dan uji iritasi.

Informasi yang beredar di masyarakat terkait pengaplikasian bawang putih adalah dengan menempelkan langsung bawang putih ke bagian mata yang mengalami bintita. Padahal dari dua informasi di atas dapat disimpulkan bahwa bawang putih yang digunakan tidak langsung diaplikasikan. Jaman dulu bahkan bawang putih harus disampur dulu dengan wine dan dibiarkan selama 9 hari, kemudian dari penelitian bawang putih yang digunakan adalah ekstrak (yang mana sudah ada perendaman dengan ethanol selama 24 jam pada prosesnya) kemudian diuji pH dan iritasinya agar layak diaplikasikan ke kulit manusia.

Kulit sekitar mata sangat sensitif, tentu tidak bijak jika mengaplikasikan benda asing ke kulit begitu saja. Bukan kesembuhan yang di dapat, bisa jadi justru malah menimbulkan masalah lain. Untuk itu, ada baiknya kita mempelajari apa yang terjadi pada bintitan, sehingga kita bisa melakukan penganganan yang tepat.

 

Apa itu bintitan?

Bintitan atau hordeolum adalah suatu keadaan akut di mana mata terasa nyeri, kemerahan, inflamasi di kelopak mata. Hordeolum ini terjadi karena adanya infeksi di kelopak mata baik atas maupun bawah. Ada hordeolum ada yang internal dan eksternal. Hordeolum external berarti benjolan tersebut nampak dari luar, kadang nanah yang terperangkap dalam kulit juga terlihat. Sementara internal tidak tampak. Kondisi ini bisa berlangsung 1-2 minggu, dan biasanya sembuh sendiri.

 

Penyebab Hordeolum

Penyebab tersering adalah karena adanya infeksi bakteri Staphylococcus yang menginfeksi folikel rambut di kelopak mata. Kelopak mata adalah organ yang memiliki banyak kelenjar air mata dan kelenjar minyak. Infeksi ini mengakibatkan adanya blokade kelenjar minyak dan air mata. Blokade akan menyebabkan dinding saluran kelenjar menebal sehingga memudahkan infeksi bakteri. Kolonisasi bakteri tersebut membuat sel-sel antiinflamasi di tubuh berkumpul, sehingga terbentuklah kantung/abses yang berisi nanah di kelopak mata.

Hordeolum tidak berkaitan dengan ras, jenis kelamin, maupun usia yang artinya kondisi ini bisa menyerang siapa saja.

 

Gejala Hordeolum

Pada awal gejala, seseorang biasanya merasakan nyeri, kemerahan dan bengkak pada kelopak mata tanpa disertai riwayat trauma/ kemasukan benda asing. Tidak ada keluhan pada bola mata, gerak mata pun tidak nyeri, kadang disertai abses yang berisi nanah.

 

Terapi hordeolum

Pada beberapa kasus, benjolan akan hilang sendiri tanpa diterapi apapun. Namun rasa tidak nyaman tentu membuat seseorang ingin segera mendapatkan pengobatan yang tepat. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan mandiri sebelum menemui dokter, yaitu:

1.      Kompres hangat 4x10 menit per hari. Kompres hangat menyebabkan jaringan granulasi melembut dan memudahkan drainase. Selain itu jua mengurangi inflamasi, mengurangi nyeri.

2.      pijat dengan lembut di area yang meradang. Pijat membantu mempercepat drainase pus (nanah) dari kelenjar yang terinfeksi.

3.      Bersihkan kelopak mata dengan air saline atau sampo bayi yang tidak pedih dan pH seimbang. Hal ini bisa memudahkan dranase dan membersihkan debris dari saluran yang tersumbat. Sabun juga berfungsi menghansurkan dinding sel bakteri. Hal ini juga bisa digunakan untuk terapi blefaritis yang menjadi penyebab hordeolum eksternal.

4.      Jika hordeolum interna, maka hati-hati dalam memijat, karena bisa menyebabkan iritasi atau deformasi kornea.

5.      Benjolan yang tidak membaik atau justru membesar mungkin memerlukan antibiotik oles. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk pemilihan antibiotik oles yang tepat untuk hordeolum. Selain itu juga berfungsi sebagai lubrikan. Jika benjolan membesar secara signifikan bisa menekan korna, maka pemberian steroid mungkin diperlukan untuk durasi yang singkat. Namun jika infeksinya menyebab ke jaringan di sekitarnya, mungkin memerlukan pengobatan antibiotik sistemik.

6.      Insisi dan drainase abses bisa dilakukan dalam keadaan steril dan teranastesi.

7.      Cari penyakit mata lain yang menjadi penyebab sperti blefaritis atau rosasea lalu obati.

8.      Biasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Bersihkan tangan sebelum menyentuh mata, bersihkan make up sebelum tidur.

 

Nah demikian penjelasan mengenai mitos menyembuhkan bintitan dengan bawang putih. Semoga kita bisa bijak dalam memberikan terapi atas penyakit yang mengenai tubuh kita, ya....

 

 

Referensi:

Bragg KJ, Le PH, Le JK. Hordeolum. [Updated 2021 Aug 9]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441985/

Ehrenhaus MP, author, Edsel BI, editor. Hordeolum Treatment & Management. Update 2021. Available access on 13 Juni 2022 https://emedicine.medscape.com/article/1213080-treatment#d8

Andrei, Mihai. 2015. 1,000 year old garlic remedy treats styes and MRSA better than modern antibiotics diakses pada 13 juni 2022 https://www.zmescience.com/science/biology/garlic-remedy-association-06042015/

Dewi, I., Orde, I., & Verawaty, V. (2020). EFEKTIVITAS GEL EKSTRAK ETANOL BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia, 2(2), 105-112. https://doi.org/10.33759/jrki.v2i2.84

Minggu, 12 Juni 2022

Mitos ke-11 Makan Nanas Menyebabkan Keputihan


Nanas adalah buah yang banyak ditemui di Indonesia. Namun, buah yang memiliki rasa manis dan sedikit asam ini banyak di jauhi oleh wanita karena dianggap sebagai biang kerok terjadinya keputihan pada wanita. Apakah hal tersebut benar?

Buah nanas (Ananas comosus) banyak mengandung zat gizi antara lain vitamin A, vitamin C, vitamin B6, kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, kalium, folat, dekstrosa, sukrosa (gula tebu), serta enzim bromelin (bromelain) yang merupakan 95% campuran protease sistein, yang dapat menghidrolisis protein (proteolisis) dan tahan terhadap panas. Enzim bromelin memiliki efek abortifikasi, yakni menghambat implantasi, meningkatkan kontraksi uterus, dan memiliki efek embriotoksik. Enzim bromelin meningkatkan kadar prostaglandin yang dapat memicu kontraksi uterus pada ibu hamil.

Bromelin juga memiliki manfaat bagi tubuh, diantaranya bagi sistem cardiovaskular bromelin melindungi atau meminimalkan keparahan angina pektoris dan transient ischemik attack (TIA). Bromelin menghancurkan plak kolesterol dan menunjukan sebuah aktivitas fibrinolitik yang poten. Kombinasi bromelin dan nutrisi lainnya mampu melawan iskemia atau reperfusi pada otot. Selain fungsi diatas, bromelin juga memiliki efek pada penyakit osteoarthritis, yakni terjadi pengurangan rasa sakit dan menurunnya inflamasi.

Disamping kelebihan dan kekurangan buah nanas, tidak ada studi yang menjelaskan hubungan terjadinya keputihan pada wanita yang disebabkan oleh konsumsi buah nanas. Lalu mengapa wanita bisa terjadi keputihan?

 

Apa itu keputihan?

Keputihan atau fluor albus adalah kondisi di mana keluarnya cairan dari oragan intim wanita (vagina). Pada kondisi normal, vagian akan menghasilkan lendir dalam jumlah tertentu. Lendir tersebut berfungsi untuk menjaga kondisi keasaman dalam vagina (pH normal vagina 3,5-4,5) sekaligus mencegah iritasi. Selain itu, di area bagian vagina terdapat banyak flora normal, yaitu sekelompok bakteri baik yang berfungsi menghasilkan lendir. Flora normal meliputi Corynebacterium, Bacteroides, Peptostreptococcus, Gardnerella, Mycoplasma, dan Candida spp

Keputihan sendiri bukan lah suatu penyakit, melainkan manifestasi dari hampir semua penyakit kandungan. Namun memang ada jenis keputihan yang disebabkan oleh infeksi, baik oleh bakteri, jamur, maupun parasit. Keputihan ini disebut patologis dan dapat  menyerang  wanita  mulai dari usia muda, usia reproduksi sehat maupun  usia  tua  dan  tidak  mengenal  tingkat  pendidikan,  ekonomi  dan  sosial  budaya.  

 

Penyebab Keputihan

Keputihan sering dikaitkan dengan ketidakseimbangan pH vagina. Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya keputihan:

·         Kurangnya personal hygene:

Cara membersihkan organ kewanitaan yang salah, penggunaan handuk bersama, frekuensi penggunaan pembalut dan pantyliner yang kurang tepat, jarang memotong bulu kemaluan, pakaian dalam yang ketat, tidak menyerap keringat, lembab dan jarang menggantinya, dan penggunaan air yang kurang higienis dengan keadaan lingkungan yang kotor.

·         Akibat adanya kuman di daerah vagina yaitu Bacterial vaginosis, andidiasis, parasit (Trichomonas, Clamydia, gonorrhoea).

·         Benda asing: tampon yang dimasukan ke vagina

·         Iritan: parfum, deodoran, sabun mandi, produk feminine hygene

·         Atrofi Vagina (penipisan, pengeringan dinding vagina yang disebabkan oleh kuranganya hormon estrogen pada wanita usia menopause)

·         Fistula

·         Tumor di vulva, vagina, cervix, endometrium

·         Trauma

·         Kehamilan

·         Bergonta-ganti pasangan seksual

·         Memiliki penyakit sistemik seperti diabetes yang tidak terkontrol

 

Gejala Keputihan

Keputihan normal ciri-cirinya tidak berwarna (bening), tidak terlalu banyak, namun produksi bisa meningkat saat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur). Keputihan patologis ciri-cirinya berwarna (putih, kuning seperti keju, hijau), berbau, perubahan konsistensi dan volume, kadang disertai gatal, nyeri, disuria (nyeri saat buang air kecil), nyeri panggul, perdarahan di luar menstruasi atau perdarahan setelah berhubungan seksual.

Beberapa gejala keputihan patologis berdasarkan penyebabnya:

·         Bakterial vaginosis: cairan yang keluar tipis, berwarna putih/abu-abu, bau seperti ikan. Tidak ada tanda inflamasi maupun nyeri.

·         Vaginal candidiasis: tidak berbau, berwarna putih, tampak kemerahan saat pemeriksaan, edema vagina, ekskoriasi pada vulva.

·         Tricomonas: biasanya berwarna kuning-hijau, seperti berbusa, bau seperti ikan. Inflamasi pada vulva dan vagina, serviks kemerahan (strawberry appeareance)

·         Cervicitis karena clamidya: cervix inflamasi, mudah berdarah, cairan mukopurulen (kental bernanah)

 

Pencegahan Keputihan:

Keputihan sering diawali karena buruknya personal hygene, maka perlu meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan. Membiasakan  mencuci  tangan  dengan sabun  dan  memotong  kuku  tangan  ketika  mulai  tumbuh  panjang  sangat  penting  untuk  mencegah  berpindahnya bakteri dari tangan ke organ kewanitaan. Cara membersihkan organ kewanitaan yang benar yaitu dari arah depan ke belakang dimaksudkan agar bakteri dari anus tidak masuk ke dalam vagina.  Hal tersebut diimbangi dengan penggunaan air yang bersih yang berasal dari air yang mengalir bukan yang menggenang yang dapat tercemar oleh lingkungan sekitar. 

Menjaga vagina agar tidak lembab merupakan salah satu cara untuk mencegah terbentuknya lingkungan yang baik untuk berkembang biaknya bakteri maupun jamur. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengeringkan vagina dengan pribadi maupun tisu lembut.  Penggunaan bahan celana dalam dari katun yang dapat menyerap keringat, tidak ketat, dan sering mengganti celana dalam minimal 2 kali sehari atau segera saat merasa basah. Selain itu, mencukur bulu kemaluan secara rutin dengan gunting pribadi dan steril dapat mencegah tidak terlalu lembab dan mencegah bakteri, jamur, maupun parasit yang bersarang pada bulu kemaluan.

Penggunaan pembalut yang berbau  harum  dan  mengandung  gel  tidak  diperkenankan  karena  hal  tersebut  dapat  memicu  terjadinya  iritasi  bahkan  kanker  pada  organ  kewanitaan.  Memilih pembalut yang lembut dan menggantinya sesering mungkin setiap 4 jam sekali sangat membantu dalam pencegahan infeksi. Hal tersebut dikarenakan darah merupakan tempat yang baik untuk bakteri bersarang. Namun, penggunaan panty liner rutin tidak disarankan karena  dapat  menyebabkan  iritasi pada organ kewanitaan.

Tidak diperbolehkan membersihkan organ kewanitaan dengan sabun mandi maupun antiseptik atau sampo karena  dapat  mengganggu  keseimbangan PH dan flora normal yang ada pada vagina.

Tidak berganti-ganti pasangan seksual untuk menghindari penyakit menular seksual.

Jika seseorang mengalami gejala keputihan patologis, segera kunjungi dokter Anda untuk mendapatkan terapi lebih lanjut. Sebaiknya tidak mengobati sendiri karena penyebab keputihan banyak, tidak semua selesai dengan pemberian antibiotik.

 

Simpulan

Keputihan tidak ada hubungannya dengan mengonsumsi buah nanas. Bagi wanita yang tidak sedang hamil tri mester pertama tidak mengapa jika ingin memakan nanas. Nanas pun memiliki kandungan gizi yang banyak. Keputihan paling sering disebabkan karena kondisi kebersihan diri yang kurang. Untuk itu pentingnya mulai memperbaiki perilaku hidup bersih dan sehat.  

 

Referensi:

Saleh SN, Agustin A, Muzayyana M, Akbar H. Edukasi Pemanfaatan Hasil Olahan Buah Nanas Bagi Mahasiswi Usia Subur di Institut Kesehatan Dan Teknologi Graha Medika. Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ). 2021 Dec 29;2(3):52-6.

Silaban I, Rahmanisa S. Pengaruh Enzim Bromelin Buah Nanas (Ananas comosusL.) terhadap Awal Kehamilan. Jurnal Majority. 2016 Oct 1;5(4):80-5.

Airaodion, Augustine & Okoroukwu, Victor & Ogbuagu, Emmanuel & Ogbuagu, Uloaku. (2019). In Vitro and In vivo Evaluation of Ananas comosus Fruit (Pineapple) on Abortion/Miscarriage in Wistar Rats. 11. 69-75.

Nikmah, U. S., & Widyasih, H. (2018). Personal Hygiene Habits dan Kejadian Flour Albus Patologis pada Santriwati PP AL-Munawwir, Yogyakarta. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 14(1), 36-43. Retrieved from https://journal.unhas.ac.id/index.php/mkmi/article/view/3714

Rao VL, Mahmood T. Vaginal discharge. Obstetric, Gynaecology and Reproductive Medicine. Volume 30, Issue 1, 11 - 18 DOI: https://doi.org/10.1016/j.ogrm.2019.10.004  available post https://www.obstetrics-gynaecology-journal.com/article/S1751-7214(19)30206-4/fulltext

Sabtu, 11 Juni 2022

Mitos ke-10 Badan Pegal Selalu karena Asam Urat

 “Dok, badan saya pegal-pegal. Apakah saya terkena penyakit asam urat?”

Pertanyaan ini sering kali ditemui di praktek dokter, baik di klinik, puskesmas, maupun rumah sakit. Kabar yang beredar setiap pegal yang dirasakan adalah karena meningkatnya asam urat. Namun, apakah benar pegal-pegal selalu karena asam urat yang tinggi? Mari kita simak bersama penjelasan berikut.

 

Apa itu Gout?

Penyakit asam urat atau gout adalah suatu penyakit yang terjadi karena adanya penumpukan kristal asam urat di sendi. Kondisi ini paling sering terjadi di sendi jempol kaki, pergelangan kaki dan lutut,

Menurut Perhimpunan Reumatologi Indonesia (IRA), Gout merupakan penyakit progresif akibat deposisi kristal monosodium urat (MSU) di sendi, ginjal, dan jaringan ikat lainnya sebagai akibat dari peningkatan kadar urat dalam darah (hiperurisemia) yang berlangsung kronik. Tanpa penanganan yang efektif kondisi ini dapat berkembang menjadi gout kronis, terbentuknya tofus, dan bahkan dapat mengakibatkan gangguan fungsi ginjal berat, serta penurunan kualitas hidup. Dalam praktik sehari-hari masih ditemukan overdiagnosis dan tata laksana gout yang tidak adekuat yang mengakibatkan terjadinya berbagai penyulit gout.

Gout adalah salah satu bentuk peradangan sendi (artritis). Hiperurisemi merupakan penyebab terbentuknya MSU. Namun, faktanya hanya 5% orang dengan hiperurisemia diatas 9 mg/dL akan berkembang menjadi gout. MSU bisa tertimbun di jaringan manapun dan di sekitar persendian akan membentuk tofus.

Prevalensi gout terjadi pada 1-4% dari populasi. Prevalensi gout meningkat sesuai umur dengan rerata 7% pada pria umur >75 tahun dan 3% pada wanita umur >85 tahun. Kasus meningkat karena kebiasaan makan yang buruk seperti makan fast food, kurangnya olahraga, dan meningkatnya obesitas dan sindrom metabolik.

 

Penyebab Gout

Kristal urat akan menumpuk di jaringan dimulai saat level asam urat dalam darah meningkat. Level asam urat laki-laki lebih tiggi daripada perempuan. Namun, pada wanita yang menopause, level asam urat lebih tinggi daripada laki-laki. Gout jarang terjadi pada anak-anak atau dewasa muda.

Adapun penyebab terjadinya gout adalah:

1.      Mengonsumsi makanan yang banyak mengandung purin yang didapatkan dari daging merah dan seafood. Sementara sayuran seperti kacang, lentil, jamur, kacang polong, dan produk susu tidak menyebabkan hiperurisemia, Sehingga boleh dikonsumsi pada pasien asam urat.

2.      Faktor lainnya adalah genetik, berat badan berlebih (overweight), konsumsi obat-obatan tertentu (contoh: diuretik), gangguan fungsi ginjal, dan gaya hidup yang tidak sehat (seperti: minum alkohol dan minuman berpemanis).

 

Gejala Gout

Hiperurisemia tanpa gejala klinis ditandai dengan kadar asam urat serum > 6.8 mg/dL Serangan artritis gout akut ditandai dengan nyeri hebat, nyeri sentuh/tekan, tiba-tiba, kaku, bengkak, teraba panas disertai bengkak dengan atau tanpa kemerahan yang mencapai puncak dalam 6−12 jam pada satu sendi (monoartritis akut). Pada sendi besar seperti lutut, pergelangan kaki jarang terjadi. Dikatakan gout jika ditemukan kristal MSU pada cairan sendi atau aspirasi tofus.

Kadar asam urat serum merupakan faktor risiko penting gout, namun nilai kadarnya dalam serum tidak dapat memastikan maupun mengeksklusi adanya gout oleh karena banyak orang mengalami hiperurisemia namun tidak menderita gout, disamping itu pada serangan gout akut sangat mungkin terjadi saat kadar serum normal. Pasien dengan kadar asam urat 7-7,9 mg/dL hanya 0.09% yang berkembang menjadi gout, dan pada kadar asam urat 8-8.9 mg/dL hanya 0.4% menjadi gout. Di atas 9mg/dL hanya 0.5% yang menjadi gout.

Serangan artritis gout akut yang pertama paling sering mengenai sendi metatarsophalangeal (MTP) atau jempol kaki yaitu sekitar 80−90 % kasus. Serangan artritis akut kedua dapat dialami dalam 6 bulan sampai dengan 2 tahun setelah serangan pertama. Serangan akut kedua dan seterusnya dapat mengenai lebih dari satu persendian, dapat melibatkan tungkai atas, durasi serangan lebih lama, interval antar serangan lebih pendek dan lebih berat. Nyeri pada tulang punggung sangat jarang terjadi.

 

Penatalaksanaan Gout

Serangan akut biasanya akan sembuh sendiri dalam jam sampai hari.

Pastikan kadarasam urat dibawah 6 mg/dL. Pasien adalah kunci utama suksesnya terapi gout

Prinsip umum pengelolaan hiperurisemia dan gout

1.      Setiap pasien hiperurisemia dan gout harus mendapat informasi yang memadai tentang penyakit gout dan tatalaksana yang efektif termasuk tatalaksana terhadap penyakit komorbid.

2.      Setiap pasien hiperurisemia dan gout harus diberi nasehat mengenai modifikasi gaya hidup

3.      Setiap pasien dengan gout secara sistematis harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan penapisan untuk penyakit komorbid terutama yang berpengaruh terhadap terapi penyakit gout dan faktor risiko kardiovaskular, termasuk gangguan fungsi ginjal, penyakit jantung koroner, gagal jantung, stroke, penyakit arteri perifer, obesitas, hipertensi, diabetes, dan merokok.

 

Perubahan Gaya Hidup yang bisa dilakukan untuk menghindari Gout

Diet

·         Hindari makanan yang mengandung tinggi purin hati, ampela, ginjal, jeroan, dan ekstrak ragi, daging sapi, domba, babi, makanan laut tinggi purin (sardine, kelompok shellfish seperti lobster, tiram, kerang, udang, kepiting, tiram, skalop).

·         Menghindari konsumsi alkohol

·         Fruktosa yang ditemukan dalam corn syrup, pemanis pada minuman ringan dan jus buah juga dapat meningkatkan kadar asam urat serum.

·         Konsumsi vitamin C, dairy product rendah lemak seperti susu dan yogurt rendah lemak, cherry dan kopi menurunkan risiko serangan gout.

·         Diet ketat dan tinggi protein sebaiknya dihindari.

Menjaga berat tubuh yang ideal.

Menjaga hidrasi tubuh

Asupan air minum >2 liter per hari disarankan pada keadaan gout dengan batu saluran kemih.  Sedangkan saat terjadi serangan gout direkomendasikan untuk meningkatkan asupan air minum minimal 8 – 16 gelas per hari.

Latihan fisik

Latihan fisik 3−5 kali seminggu selama 30−60 menit. Latihan fisiknya meliputi latihan kekuatan otot, fleksibilitas otot dan sendi, dan ketahanan kardiovaskular. Olahraga bertujuan untuk menjaga berat badan ideal dan menghindari terjadinya gangguan metabolisme yang menjadi komorbid gout. Namun, latihan yang berlebihan dan berisiko trauma sendi

 

Simpulan:

Nah, dari penjelasan di atas ternyata tidak semua keluhan pegal-pegal disebabkan oleh asam urat yang tinggi. Ciri khas dari gout adalah terjadi pada satu sendi kecil (seringnya jempol kaki) dan mendadak. Bahkan jika keluhannya “boyok” sakit, gout jarang sekali terjadi pada tulang belakang. Untuk itu, jika mengalami nyeri sendi di bagian tubuh tertentu lebih baik konsultasikan kepada dokter, dan sebaiknya tidak mengonsumsi obat-obatan sendiri untuk ketepatan terapi dan menghindari efek samping dari obat. Lain keluhan tentu lain pula terapinya, kan?

 

Referensi:

Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Pedoman Diagnosis dan Pengelolaan Gout (Internet). 2018 (cited 2022 Jun 11). ISBN 978-979-3730-31-8 available from: https://reumatologi.or.id/wp-content/uploads/2020/10/Rekomendasi_GOUT_final.pdf

Ragab, Gaafar et al. Gout: An old disease in new perspective - A review. Journal of advanced research vol. 8,5. 2017 : 495-511. doi:10.1016/j.jare.2017.04.008.

Tips Membuat Infografis dengan Canva

Hallo teman-teman… Apa kabarnya nih? Semoga sehat selalu ya… nah, teman-teman di sini adakah yang suka mendesain? Jaman now , desain itu tid...